![]() |
| Tugu Sitompul di Huta Huta Sitompul Tapanuli Utara |
SEJARAH TAROMBO
“Dimulai
dari Onan Raja Balige ke Gurgur sampai ke Si- lindung terus ke Pahae,
Sibolga, Sipirok, Padang Sidimpuan Tapanuli Selatan dan tanah rantau
termasuk ke Pekanbaru” Sesuai
dengan informasi yang diperoleh tim sejarah dari Ompu Jaya Hasibuan
atau Ama Roma yang tinggal di Desa Sigaol Timur Kecamatan Uluan
Kabupaten Tobasa bahwa Raja Sobu pada awalnya bertempat tinggal di Onan
Raja Balige, persisnya adalah di lokasi Rumah Sakit Umum HKBP Balige
yang sekarang.
Tim
sejarah pun meluncur ke Balige dan melakukan pemotretan terhadap
kawasan Rumah Sakit Umum HKBP Balige, Senin, 28 Maret 2011. Setelah itu
tim meluncur ke Gurgur yaitu Desa Gurgur Aek Raja Kecamatan Tampahan
Tobasa. Tim singgah di Gurgur melakukan pemotretan kawasan Gurgur.
Ketika tim memandang ke arah Tao Toba dari tempat pemandangan Adian
Nalambok terlihat sebuah pemandangan indah.
Menurut cerita, di Desa
Gurgur Aek Raja inilah Raja Toga Sitompul bertempat tinggal dan hidup
bersama masyarakat disana. Dia kawin dengan seorang putri yang cantik
jelita namanya Bunga Marsondang Boru Siregar.
Ceritanya.
Suatu ketika, Raja Toga Sitompul sedang santai duduk di atas pohon
sambil menikmati indahnya kawasan gunung dan Tao Toba. Dalam hatinya
dia berdoa dan meminta kepada Ompu Mulajadi Nabolon agar ditunjukkan
seorang putri atau gadis untuk dijadikan istri agar hidupnya tidak
kesepian.
Ketika
sadar dari alam angan-angannya, dia melihat ke bawah (dari atas pohon)
muncul sebuah bunga yang sangat cantik dan mengeluarkan cahaya putih.
Dalam bahasa batak : Bunga na bontar i na binereng nai marsinondang
mansai uli. Dia pun turun dari atas pohon hendak memetik bunga nan
cantik jelita itu. Ketika dia hendak memetik bunga itu, ternyata bunga
tersebut adalah seorang gadis cantik yang tidak ada tandingannya.
Mereka pun saling berkenalan dan terjadilah hubungan cinta. Gadis
tersebut akhirnya menjadi istrinya dan namanya disebut Bunga
Marsondang. Terakhir diketahui Bunga Marsondang adalah Boru Siregar.
Dari hasil pernikahan Raja Toga Tompul dengan Bunga Marsondang dikaruniai satu orang anak yaitu Hobolbatu.
Bunga Marsondang sangat sayang terhadap anaknya Hobolbatu. Semua ilmu
yang dimiliki Bunga Marsondang diturunkan kepada anaknya. Dan setelah
besar Hobolbatu pun dikawinkan.
Istri Hobolbatu ada dua orang yaitu yang pertama Boru Sinaga dan istri kedua Boru Situmorang.
Dari istri
pertama Boru Sinaga lahir dua orang anak yaitu Sabar Dilaut
(Lumbantoruan) dan Handang Dilaut (Lumbandolok). Dari istri kedua Boru
Situmorang lahir tiga anak. Anak pertama adalah Sabuk Nabegu
(Siringkiron). Anak kedua lahir seorang anak perempuan namanya Mariana.
(Dikenal sebagai Boru Tompul Sopurpuron) dan anak ketiga adalah
Lintong Ditao (Sibange-bange).
Dari
Gurgur, Ompu Hobolbatu dan keturunannya (pomparan) pindah ke arah Rura
Silindung bersamaan dengan marga lain seperti Naipospos dan Sihombing.
Mereka berjalan kaki menelusuri lereng bukit barisan menuju Rura
Silindung. Pertama kali mereka singgah di Hutabarat.
Bukti sejarah menunjukkan bahwa di Hutabarat Tarutung terdapat sebuah perkampungan bernama Huta Sitompul
dan sekarang ini masih terdapat disana sebuah rumah marga Sitompul.
Dari Hutabarat sebagian pomporan sitompul pindah ke Lumban Siagian dan
terakhir di Simalailai yang sekarang dikenal Desa Sitompul. Ketika
mereka sampai di Tarutung Rura Silindung yang berkusa waktu itu adalah
Guru Mangaloksa dan keturunnnya.
Keturunan
marga sitompul tinggal di Tarutung tepatnya Desa Sitompul (sekarang).
Sabar Dilaut membangun rumah di daerah bagian bawah (disebut Lumban
Toruan) dan Handang Dilaut membangun rumah di bagian atas (Lumban
Dolok) dan Lintong Ditao membangun rumah di daerah Bange-bange (makanya
disebut Sibange-bange) dan Sabuk Nabegu tinggal di bibir gua dan dia
selalu dikunjungi oleh abang dan adeknya. Makanya disebut daerah
Sitingkiron dan menjadi Siringkiron.
Sejak
itulah Sabar Dilaut selalu dipanggil Sitompul Lumban Toruan, Hangdang
Dilaut dipanggil Sitompul Lumban Dolok, Sabuk Nabegu dipanggil Sitompul
Siringkiron dan Lintong Ditao dipanggil Sitompul Sibange-bange.
Ketika
tim sejarah turun ke desa Sitompul, Ompu Dorkas Sitompul yang lahir di
Desa Sitompul dan kini masih tinggal disana menunjukkan letak wilayah
Lumban Toruan, wilayah Lumban Dolok, wilayah Siringkuron dan wilayah
Sibange. Semuanya masih di wilayah Desa Sitompul yang sekarang. Bahkan menurut Ompu Dorkas Sitompul, diatas Desa Sitompul, terdapat bukit (tombak) milik masing-masing.
“Sebelah
sana adalah tombak ni Lumbantoruan, sebelah sana lagi tombak ni Lumban
Dolok, sebelah situ tombak ni Siringkiron dan sebelah yang itu tombak
ni Sibange-bange, katanya menjelaskan sambil menunjuk bukit yang ada di
atas desa tersebut. Dijelaskan, ketika pada awalnya tinggal di Desa
Sitompul, selain wilayah untuk tempat tinggal juga mereka mewarisi
‘tombak’ (bukit). “Waktu kecil saya masih ingat, kami anak-anak pergi ke
‘tombak’ untuk mencari kayu bakar. Dan hingga sekarang tidak ada marga
lain yang mengaku ‘tombak’ tersebut selain sitompul,” kata HP Sitompul
anak dari Ompu Dorkas.
Disanalah
mereka tinggal dan berketurunan. Sementara itu, Ompu Hobolbatu terus
menelusuri gunung, lembah dan gunung sampai ke Luat Pahae, terus ke
Sipirok, Padang Sidimpuan dan Gunungtua. Di daerah-daerah tersebut dia
melihat bahwa ada kehidupan. Dia pun kembali ke Tarutung dan
menceritakan bahwa di daerah yang dia jalani ada kehidupan baru yang
lebih baik. Dia pun menyuruh pomparannya kesana membuka lahan
pertanian.
Demikianlah
tahun demi tahun, keturunan Sitompul yang ada di Tarutung hijrah
secara pelan-pelan ke Luat Pahae dan daerah Sipirok Tapanuli Selatan.
Mereka menelusuri lereng gunung sampai ke daerah Pahae. Namun ada yang
terus melanjutkan perjalanan sampai ke Sipirok dan Padang Sidempuan
Tapanuli Selatan. Dari Luat Pahae ada yang turun lewat gunung dan
lembah sampai ke Sibolga Tapanuli Tengah.
Dari Tarutung ada juga yang merantau ke Laguboti yaitu Ompu Jarangar anak kelima dari Datumanggiling.
Karena
kehidupan di Pahae jauh lebih menjanjikan daripada di Rura Silindung,
maka keturunan sitompul yang ada di Tarutung hijrah setelah mendengar
bahwa saudara-saudaranya sudah banyak yang berhasil di Pahae. Sampai
generasi ke 8 (nomor 8 dari Raja Toga Sitompul pada tarombo) masih
banyak yang hijrah ke Pahae. Disaat itu terjadi perang Padri dan perang
Bonjol.
LUMBAN TORUAN
Ompu
Lumban Toruan mempunyai satu orang anak yaitu Raja Imbak Sahunu. Raja
Imbak Sahunu punya dua anak yaitu Namora Sande Tua dan Baliga Raja.
Anak dari Namora Sande Tua tiga orang yaitu Namora Naga Timbul, Namora
Banuaji dan Namora Batu Mundom (keturunannya kini ada di Silindung).
Anak
dari Namora Banuaji dua orang yaitu Sutan Maimatua dan Sutan Bodiala.
Keturunan Sutan Maimatua ada tiga orang yaitu Lias Raja, Sampang Raja
dan Jompak Raja. Ompu Lias Raja pergi ke Sibolga, Sampang Raja ke Janji
Maria Pahae dan Jompak Raja pergi ke Sipirok. (Dalam buku Tarombo nomor
urut 8 dari Raja Toga Sitompul).
LUMBAN DOLOK
Ompu
Lumban Dolok punya dua orang anak yaitu Saur Ni Aji dan Martangga Ni
Batu. Anak dari Martangga Ni Batu tiga orang yaitu Tuan Nagani (Pergi
ke Sigurung-gurung Pahae), Ompu Ni Guguan (tinggal di Silindung) dan
Datu Goga. Anak dari Tuan Nagani empat orang yaitu Ompu Manggontang
(keturunannya tinggal Pahae), Ompu Birong (Keturunannya ada yang pergi
ke Sibolga), Ompu Panigoni (Keturunannya ada yang pergi Sidimpuan) dan Ompu Rori (keturunannya tetap tinggal Pahae).
Anak
dari Ompu ni Guguan tiga orang yaitu Baha Raja, Parbalatuk Tunggal dan
Buntul Mata. Anak dari Baha Raja tiga orang yaitu Ompu Partungkoan,
Ompu Solopoan dan Raja Partahian. Anak dari Raja Partahian dua orang
yaitu Ompu Lamak dan Naga Timbul (pergi ke Batu Nadua Sidimpuan). Ompu
Lamak kawin dengan Boru Siagian dan mempunyai dua anak yaitu Ama ni
Batu Lamak (Pergi ke Pahae dan kawin dengan Boru Sigurung -gurung di
Pahae) dan Ompu Partahian (tinggal di Silindung dan kawin dengan Boru
Nainggolan).
SIRINGKIRON
Ompu
Siringkiron anaknya hanya satu yaitu Ompu Mangarerak. Anak dari Ompu
Mangarerak juga satu yaitu Ompu Sotargomar. Dan anak dari Ompu
Sotargomar ada tiga orang yaitu Ompu Singgar Diaji, Ompu Panggalang dan
Ompu Tinsut.
Sesuai
dengan Tarombo Siringkiron, Ompu Singgar Diaji merantau ke Madina
Tapanuli Selatan dan mereka telah membuka perkampungan (huta) disana.
Sementara keturunan Ompu Panggalang sebagian merantau ke Janji Angkola
dan Tapanuli Tengah dan sebagian lagi tinggal di Silindung. Dan
keturunan Ompu Tinsut ada yang tinggal di Pahae dan sebagian merantau
ke Janji Angkola dan Sipirok Tapanuli Selatan.
Ompu Sibange-bange mempunyai tiga anak yaitu Sariburaja, Datu Manggiling dan Raja Tinaruan.
Saribu Raja : Anak
dari Saribu Raja enam orang yaitu Tuan Saur, Ompu Pangarisan, Namora
Batu Mundom, Ompu Ni Anggara, Daruhan Lombang dan Sampulu Tua. Keturunan
dari Ompu Saribu Raja pada awalnya sebagian besar sudah pergi ke
Pahae.
DATU MANGGILING
Anak kedua dari Ompu Sibangebange adalah Datu Manggiling. Tarombo Datu Manggiling ada dua versi tentang jumlah anaknya. Versi pertama : Ada
yang menyebut bahwa anak dari Datu Manggiling ada lima yaitu Namora
Hussus, Tuan Boksa, Ompu Soripada, Datu Mira dan Jarangar. Keturunan
dari Jarangar ada dua orang yaitu Patuan Jonang dan Guru Tinandang
(Datu Tandang) yang membuka perkampungan (huta) di Huta Tinggi
Laguboti. Dari Huta Tinggi Laguboti anaknya yang kedua Guru Tinandang
pergi ke daerah Porsea dan membuka perkampungan disana dan mereka
menyebut Lumban Masopang.
Satu versi kedua : mengatakan
bahwa anak dari Datu Manggiling ada empat orang yaitu Namora Hussus,
Tuan Boksa, Mata Mira dan Dasopang. Menurut Ompu Moses Sitompul Ompu
Soripada adalah keturunan dari Namora Hussus. Ompu Soripada merantau
dari Pahae ke Sibolga dan dari Sibolga datang ke Lumban Siagian
Silindung dan membuka perkampungan disana.
Ompu
Moses Sitompul mengatakan anak dari Namora Hussus ada tiga orang. dan
anak dari Tuan Boksa yang tinggal di Simata ni Ari Pahae anaknya satu
orang yaitu Raja Birong. Anak dari Raja Birong dua orang yaitu Ompu Jau
dan Ompu Burju. Keturunan dari Ompu Jau sampai sekarang tinggal di
Simata ni Ari Pahae dan keturunan dari Ompu Burju tinggal di
Sibaganding.
Raja Tinaruan
Anak
ketiga dari Sibange-bange yaitu Raja Tinaruan tidak tinggal diam. Dia
pun ikut hijrah ke dareah Pahae. Pertama kali dia tiba di
Simardangiang. Dia kawin disana dan mempunyai dua anak. Yang pertama
Namora Batu Mundom dan anak kedua Tuan Nagani.
Anak
kedua Tuan Nagani meninggalkan Simardangiang melintasi pegunungan dan
tiba di Aek Matio. Dari sana turun ke Adian Rahot (Adiankoting). Di
Adian Rahot Ompu Tuan Nagani membuka perkampungan. Anaknya ada dua
yaitu Ompu ni Gaga dan Ompu Matio.
Ompu
ni Gaga mempunyai empat orang anak, yang pertama Lemlem (kembali ke
Simardangiang Pahae). Anak kedua Bauk (tinggal di Adiankoting sampai
sekarang). Anak ketiga Ompu Debata (tinggal di Adian Rahot) dan anak ke
empat Lumbot (pergi merantu ke Barumun Tapanuli Selatan.
Ompu
Debata yang tinggal di Adian Rahot mempunyai dua anak yaitu Ompu
Marbona (tinggal di Pagaran Pisang) dan Ompu Raja Sina tetap tinggal di
Adian Rahot. Ompu Raja Sina mempunyai empat anak. Yang pertama Ompu
Tunggal ni Huta (pulang ke Pahae tinggal di Jonggi), anak kedua Ompu
Hondi (pulang ke Pahae tinggal di Jonggi), anak ketiga Ompu Harutur
pergi Soposaba (masih kecamatan Adiankoting) dan anak ke empat Ompu
Rumipa kembali ke Pahae. Sampai ke Tanah Rantau
MASA KINI
Kini
marga sitompul sudah berserak ke seluruh pelosok tanah air di
Indonesia baik dari Silindung Tarutung, dari Luat Pahae dan dari
Sibolga Tapanuli Tengah. Bahkan sudah ada yang tinggal menetap di luar
negeri.
Marga
Sitompul sama dengan marga lainnya suka merantau ke kota besar. Alasan
merantau diantaranya sekolah dan mencari kerja. Daerah tempat merantau
diantaranya Pematang Siantar, Medan, Jakarta, Surabaya, Duri, Pekanbaru
dan daerah lainnya. Marga Sitompul hampir sudah ada di setiap provinsi
di Indonesia.
Sudah
banyak marga sitompul yang berhasil, diantaranya ada yang menjadi
Menteri, Kapolda, Hakim, Jaksa, Pengacara beken, anggota DPR RI,
Pengusaha dan jabatan penting lainnya di Indonesia.
Bahkan
ada marga sitompul yang pernah memegang jabatan Menteri yaitu Ir
Mananti Sitompul yang menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum/Menteri
Kesehatan dimasa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) tahun
1948.
Penyakit Kolera
Menurut
cerita yang didapat Sihol Sitompul, pada awalnya, pomparan Sitompul
sudah merantau ke Pahae, tapi perpindahan besar-besaran (eksodus)
terjadi ketika daerah Tapanuli mengalami penyakit Kolera. Penyakit
Kolera ini terjadi ketika perang Padri. Ribuan orang tewas mengenaskan
akibat perang dan tergelatak begitu saja di kampung-kampung, di jalanan
dan ada yang dibuang begitu saja. Mayat membusuk mengakibatkan bau
busuk. Muncullah penyakit kolera yang mengakibatkan kematian.
Melihat
situasi dan kondisi demikian, maka banyak masyarakat yang meninggalkan
Rura Silindung. Khusus marga sitompul, mereka pergi ke Pahae menemui
saudara-saudaranya yang sudah terlebih dahulu merantau ke daerah
tersebut. Dari Luat Pahae, sebagian dari mereka berangkat ke Sibolga,
ke Adiankoting, ke Sipirok dan daerah lain.*
(Drs.
PH. Sitompul - Dikutip secara utuh dari Buku Sejarah Punguan Raja Toga
Sitompul dan Boru Pekanbaru Sekitarnya) / Tabloid HORAS










0 komentar:
Posting Komentar