Raja Tinamboran yang merupakan keturunan atau generasi ke-10 dari Raja
Silo atau generasi ke-11 dari raja Siregar atau generasi ke-15 dari Raja
Batak berusaha mencari lobu atau daerah yang baru untuk mendirikan dan
membangun kerajaannya di alur sungai (Aek) Marancar.
Beliau berhasil menemukan tempat yang diidamkannya yaitu di sebelah
kanan alur sungai Marancar yang disebut Huta Marancar I (lama) tempat
Raja Tinamborab bersama istri dan ke-4 putranya yaitu Sutan Tinggi
Barani, Sutan Nalobi, Sutan Raja Lela dan Sutan Naga Oloan serta
pengikutnya berdomisili.
Pembangunan Huta Marancar I selain dibantu oleh kahanggi-kahangginya
satu keturunan dan juga oleh anakborunya marga Sitompul serta hula-hula
(kawan sekampung) dari Huta Maronggak yaitu marga Hutabarat dan marga
Hasibuan.
Raja Tinamboran Siregar Silo sebagai Pemimpin/Penguasa atau Raja di
kawasan Marancar I pada zamannya terkenal piawi (capable and suitable),
terampil (skiled), arif dan bijaksana serta pandai menarik bicara
(vocal) sehingga beliau dijuluki oleh masyarakat banyak dan raja-raja
tetangga atau jiran sebagai Na Baun (Bauni).disamping itu, beliau juga
terkenal penggemar penyantap daging binatang buruan. Stock daging untuk
cadangan konsumsinya banyak tersimpan di kediamannya yang kadangkala
berbau (sedap/tidak sedap) sehingga beliau juga dijuluki Na Bau Mi
(Baumi).
Kedua versi cerita tentang Bauni atau Baumi telah berkembang
turun-temurun dan argumentasinya sama kuat - sama benar namun tidak
menjadi persoalan bagi turunannya, pilih mana yang suka. Dengan menyebut
nama Tinamboran secara lengkap yaitu Raja Tinamboran Siregar – Silo –
Bauni/Baumi orang terutama di daerah Tapanuli sudah dapat menebak bahwa
beliau adalah Raja dari Marancar keturunan Siregar – Silo.
2.
Lokasi Luat (Wilayah) Harajaon Marancar Untuk mudah mengetahui lokasi
Harajaon Marancar terutama bagi orang awam atau orang-orang yang jarang
berkunjung ke Marancar, sebagai petunjuk dapat dikemukakan bahwa
Harajaon Marancar dipandang dari sudut keulayatannya berlokasi di
sekitar alur sungai Batang Toru mulai dari Utara (Huta Aek Godang sampai
ke kuala/muaranya di pantai barat Sumatera – Selatan Teluk Tapian Nauli
(Sibolga), seirama dengan lintasan atau tapak tilas hijrahnya marga
Siregar beberapa abad yang lalu mulai dari
Muara-Pangaribuan-Sipirok-Marancar I & II sampai Batu Mundom.
Batas-batas Harajaon Marancar secara adat (luat) ditentukan oleh :
(1) - Jumlah dan lokasi huta-huta yang dibangun oleh raja dan keluarga
atau saudara raja, kahanggi dan anakborunya, (2) - Perjanjian batas dengan
Harajaon lainnya seperti Perjanjian Monis yaitu Perjanjian Batas antara
Harajaon Marancar dengan Harajaon Hutimbaru (Batang angkola).
Batas Harajaon Marancar Yang dianut sekarang adalah Batas Harajaon
berdasarkan data Kepala Kuria Marancar terakhir yaitu Sutan Barumun II
seperti tertera di bawah ini :
Sebelah Timur : Adian Rindang sampai ke Dolok Sibual-buali,
Sebelah
Barat : Sigalaga, Sangkunur, Batu Mundon (Pantai Barat, Sumatera –
Selatan Teluk Tapian Nauli/Sibolga),
Sebelah Utara : Hulu Aek Batang
Angkola sampai ke Sibulan Bulan,
Sebelah Selatan : Hulu Batang Angkola,
Dolok Lubuk Raya, Sisoma Jae, Sidahanon.
PROFIL PEMANGKU RAJA LUAT HARAJAON MARANCAR
![]() |
| Drs Zulfikar Siregar |
Dalam menjalankan tugas tersebut diatas sehari-hari dibantu oleh
unsur-unsur Kahanggi, Orangkaya Luat, Orangkaya Bagas Godang, Bayobayo
Nagodang, Anakboru, Hatobangon, Cerdik Pandai dan Alim Ulama.
Dikutip dari : Catatan Drs. Zulfikar Siregar Bauni Gelar Baginda Bauni
Hamonangan - Raja Panusunan XI










0 komentar:
Posting Komentar